Sesungguhnya jihad kita di bulan Ramadhan ini adalah memerangi hawa nafsu yang selalu menggoda keimanan dan menghilangkan pahala puasa kita
Dterima dari Abu Hurairah ra. bahwa Nabi saw. bersabda: – yakni ketika datangnya Bulan Ramadhan – :
“Sungguh telah datang padamu bulan yang penuh berkah, di mana Allah mewajibkan atas kamu berpuasa, di saat dibuka pintu-pintu surga, ditutup pintu-pintu neraka dan dibelenggu syetan-syetan, dan di mana dijumpai suatu malam yang nilainya lebih berharga dari seribu bulan. Maka barangsiapa yang tidak berhasil beroleh kebaikannya, sungguh tiadalah ia akan mendapatkan itu buat selama-lamanya.” (H. R. Ahmad, Nasa’i dan Baihaqi) Allah Swt. menjadikan dunia ini sebagai ujian bagi hamba-hamba Nya sehingga dapat diketahui Nya mana orang-orang yang benar keimanannya dan mana yang hanya berdusta atau bahkan tidak beriman sama sekali. Salah satu yang terbesar adalah dengan diciptakan Nya bagi manusia musuh yang senantiasa mengancam dirinya yang tiada dapat dilihatnya sementara mereka dapat melihatnya. Ialah syetan. Ia adalah musuh ‘abadi’ manusia yang telah menetapkan permusuhannya kepada manusia dan telah bersumpah di hadapan Allah Swt. untuk menyesatkan sebanyak-banyak keturunan Adam as.

Hal tersebut tidaklah berhenti sampai di situ, karena Allah Swt. juga memasukkan hawa nafsu pada setiap diri manusia sebagai batu ujian yang lain yang tidak kalah dahsyatnya, sehingga kita saksikan sudah begitu banyak manusia dalam panggung sejarah ini berguguran satu demi satu karena gagal dalam menghadapinya (na’uudzubiLlaah).

Dalam Bulan Ramadhan ini, di mana telah dijadikan Nya penuh dengan rahmat dan barakah, ujian tersebut sedikit berkurang dengan diikatnya syetan-syetan seperti terlihat dalam hadits di atas, yang menyebabkan mereka tidak dapat lagi berkeliaran mencari mangsa, sehingga wajar terasa bagi kita bagaimana Ramadhan terasa nikmat dan cenderung ‘lebih mudah’ bagi kita untuk beribadah di dalamnya. Sudah sewajarnya, selain memang penuh barakah dan rahmat, salah satu musuh utama umat manusia, syetan, tengah diikat tiada berdaya. Lalu mengapa kita masih begitu sering melihat kemaksiatan pada bulan Ramadhan tersebut?

Salah satu jawabannya adalah pada ujian lain yang ada pada setiap diri manusia (seperti yang telah disebut di atas), yaitu hawa nafsu. Ia tetap berada dalam diri setiap manusia dan tetap pada sifatnya, di mana ia senantiasa memiliki kecondongan tabiat kepada sesuatu yang baik dan bermanfaat baginya, sehingga senantiasa mengajak kepada segala sesuatu yang cenderung kepada kenikmatan.

Awalnya hawa nafsu diciptakan untuk kebaikan setiap umat manusia itu sendiri, karena memang tiada satu pun ciptaan Allah Swt. yang diciptakan Nya dengan sia-sia. Dan demikianlah, nafsu diciptakan untuk kebutuhan hidup setiap manusia sehingga mereka bisa tetap melangsungkan kehidupannya, sebagaimana nafsu makan yang sangat berguna bagi manusia untuk ia dapat tetap bertahan hidup atau nafsu seksual yang sangat berguna bagi manusia untuk memperoleh keturunan, sehingga kehidupan tetap dapat berlangsung di dunia ini.

Pada mulanya manusia hanya memiliki syahwat perut, yaitu kebutuhan untuk bertahan hidup. Kemudian seiring dengan meningkatnya strata sosial mereka, maka meningkat pula kebutuhan-kebutuhan mereka akan keduniaan ini yang meningkat sesuai dengan tingkat kesejahteraan mereka. Mulai dari syahwat kebutuhan akan lawan jenis dan demikian seterusnya.

Permasalahan timbul ketika hawa nafsu melebihi batas kewajaran dan manusia tidak dapat mengendalikannya di dalam kekuasaannya yang menyebabkan keadaan menjadi terbalik dan manusia tersebutlah yang kemudian dikendalikan oleh nafsunya. Dan demikianlah kebanyakan yang terjadi, sehingga mayoritas hawa nafsu di kemudiannya menjadi suatu kecenderungan kepada sesuatu yang rusak dan lebih mendekati keburukan serta sebagian besarnya berada di luar batas hal yang dapat mendatangkan manfaat. Maka, dapat dipukul rata bahwa sebagian besar syahwat dan hawa nafsu adalah sesuatu yang tercela. Akibat yang timbul adalah bahwa hawa nafsu lebih banyak mendatangkan bencana bagi pelakunya.

Allah Swt. berfirman:
“Ketahuilah bahwa sesungguhnya mereka hanyalah mengikuti hawa nafsu mereka (belaka). Dan siapakah yang lebih sesat daripada orang yang mengikuti hawa nafsunya dengan tidak mendapat petunjuk dari Allah sedikitpun? Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yagn zalim.” (Q. S. Al Qashash (28) : 50)

“Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai Tuhannya dan Allah membiarkannya sesat berdasarkan ilmu Nya dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya? Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah membiarkannya sesat. Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran?” (Q. S. Al Jaatsiyyah (45) : 23)

Mengenai kalimat: “Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai Tuhannya…”, Al Hasan berkata: “Orang munafik itu menyembah hawa nafsunya. Dia tidak mencintai sesuatu kecuali akan mempertuhankannya.”

Telah bersabda RasuluLlah saw.:
“Sesuatu yang paling aku takuti atas umatku adalah hukum penguasa yang dzalim, orang alim yang melenceng dan hawa nafsu yang dituruti.”(al hadits, dari kitab Dzamm al Hawaa)

Begitu banyak pelajaran dapat diambil tentang masalah ini baik dari sejarah kehidupan manusia yang telah lewat dan yang masih ada sekarang ini. Bermacam penyakit hati timbul dan kerusakan muncul di permukaan bumi, disebabkan oleh hawa nafsu yang melampaui batas yang diwakili oleh keinginan-keinginan syahwat dan kecintaan terhadap dunia yang berlebih-lebihan. Bahkan rusaknya sebuah kaum atau bangsa dapat bermula dari sebuah hawa nafsu yang dituruti, di mana ia dapat menjelma menjadi keinginan yang serakah, kesewenang-wenangan yang terawat dan kesombongan yang terus diikuti sehingga sulit untuk menerima nasehat, meremehkan orang lain serta menolak kebenaran yang telah nyata di depan mata.

Lebih jauh hal ini pun dapat berimbas kepada kerusakan moral dan akhlak, hancurnya sistem politik dan perekonomian serta runtuhnya sebuah cita-cita luhur sebuah bangsa, yang tanpa mau ketinggalan rusaknya alam dan lingkungan di sekitarnya. Hal ini kemudian ditambah pula dengan hancurnya tatanan keadilan dan mandulnya sistem peradilan sehingga tidak dapat memutuskan benar sebagai benar dan salah sebagai salah, yang menyebabkan sebuah masyarakat semakin terjerambab dalam sebuah keterpurukan yang sulit bagi mereka untuk bangun dalam waktu dekat. Begitu dahsyatnya hawa nafsu sehingga begitu besar pula kerusakan yang dapat ditimbulkannya.

Belum lagi jika kita berbicara mengenai kemungkaran yang merajalela, kejahatan yang dibiarkan dan kemaksiatan yang dipelihara, di mana semuanya dapat berasal dari salah satu sumber ujian yang disediakan untuk manusia, yaitu hawa nafsu. Ambil contoh perzinahan misalnya yang diawali dengan hawa nafsu yang berbentuk sebagai pengumbaran pandangan mata, ataupun pornografi yang sering dibungkus rapi oleh sebuah istilah bernama seni. Atau kita juga dapat lihat bagaimana sebuah kebutuhan perut yang beralih kepada keinginan-keinginan yang telah keluar dari bingkai nilai serta norma agama dan kebenaran sehingga menjelma menjadi hantu bernama korupsi sebagai sebuah tindak kejahatan yang lebih terdengar ‘berkelas’ jika dibanding dengan rekannya yang tidak masuk kepada jajaran eksekutif semacam pencurian dan perampokan. Manusia yang lemah dan kadang tidak kuat sampai menghabiskan dua piring nasi dapat berubah menjadi seekor monster yang ganas yang siap menghabisi dan memakan apa saja semisal beton dan baja.

Daftar ini diperpanjang lagi dengan masuknya golongan sebagian orang yang membuat agamanya (dalam hal ini Islam) mengikuti hawa nafsunya dengan membuat tafsiran-tafsiran yang sama sekali tidak sesuai dengan kaidah tafsir dan bahasa Arab yang menghasilkan ajaran sesat dan menyesatkan, sehingga kemudian menimbulkan pengertian-pengertian yang tidak pernah ada sebelumnya dalam umat ini dan bahkan sudah sangat menyimpang dari ajaran Nya yang lurus. Begitu mengerikan hawa nafsu tersebut jika telah lepas dari tali kekangnya, atau bahkan lebih parah, memegang tali kekang untuk mengendalikan manusia yang seharusnya menjadi tuannya.

Dengan kerusakan yang dapat ditimbulkannya itulah maka sudah sewajarnyalah kita harus berusaha untuk memerangi dan meredamnya, sehingga hawa nafsu yang ada pada diri kita dapat tunduk kepada kita dan bukan sebaliknya. Adapun cara yang dapat dilakukan adalah kembali kepada kedua sumber ajaran Islam yang utama, yaitu Al Quran dan As Sunnah serta mengacu kepada keduanya, di mana telah berwasiat RasuluLlah saw. atas keduanya bahwa tidak akan tersesat seseorang selamanya sepanjang masih mengikuti keduanya dengan sebaik-baiknya, disertai pemahaman sebagaimana pemahaman yang dimiliki generasi para sahabat ra, para tabi’in dan tabi’uttabi’in serta generasi-generasi ulama setelahnya rahimahumuLlah yang telah jelas kita lihat bagaimana akhir kehidupan mereka dengan husnul khatimah.

Sungguh merupakan kesempatan emas bagi kita yang dapat bertemu kembali dengan bulan penuh berkah ini, bulan di mana diturunkannya Al Quran sebagai permulaan risalah yang diturunkan kepada RasuluLlah saw. bagi seluruh umat manusia, di mana kita dapat berlatih untuk dapat memerangi hawa nafsu kita selama sebulan penuh dengan menjadikan Al Quran dan As Sunnah sebagai acuan kita. Jika di bulan di mana syetan diikat sehingga hawa nafsu tidak lagi diiringi kawan karib yang biasa membisikinya untuk selalu berbuat jahat saja, seseorang sudah terkalahkan yang membuatnya tidak dapat beribadah dengan baik, atau malah lebih buruk lagi, (tetap) bermaksiat kepada Allah Swt. (na’uudzubiLlaahi min dzaalik), lalu bagaimanakah nasib manusia tersebut ketika syetan kembali dilepas pada hari-hari setelahnya? Sungguh merupakan hal yang sudah sepantasnyalah kita semua untuk merenunginya.

Inilah Bulan Ramadhan, bulan tarbiyyah (pendidikan) yang merupakan kesempatan bagi kita untuk berusaha sekuat tenaga mendidik diri kita guna senantiasa memerangi hawa nafsu kita sendiri agar ia dapat ditundukkan sebagai latihan bagi kita untuk mencapai derajat takwa.

Semoga Allah Swt. memudahkan kita untuk melawan hawa nafsu yang ada dalam diri kita dan menundukkannya kepada apa yang dibawa oleh Rasul Nya saw. sebagaimana sabdanya saw.:
“Tidak beriman salah seorang di antara kalian sehingga hawa nafsunya tunduk kepada ajaran yang aku bawa.” (al hadits, dari kitab Dzamm al Hawaa)

Benarlah Allah Swt. dan Rasul Nya saw.

Iklan